Pada tahun 2026, tanggal 23 Feb – 10 Mater, Rimbun Project bersama TABON menyelenggarakan sebuah workshop animasi rotoscoping di Rumah Limasan Warung LEKAT. Workshop ini digagas untuk mengaktivasi ruang sekaligus mengisi kegiatan di bulan ramadan. Teknik rotoscoping dipilih karena merupakan teknik animasi yang sederhana dan semua orang bisa ikut terlibat. Selama kegiatan ini berlangsung banyak momen hangat terjadi, bertemu orang baru dengan segala cerita yang unik dan hangat. Field Notes ini ditulis sebagai arsip, catatan penting, dan pengingat selama kegiatan ini berlangsung.

Note: Wahyu Numan (Fasilitator Workshop)
Editor: Gupita (Editor Rimbun Project)

23 Februari

Guest:
Talitha Inka, Andolin, Puti Azzahra, Muhammad Riyal, Idan Kurniansyah, Sholahuddin Attamimi, Cahya Aditya

Note:
Pada hari pertama workshop, saya mengundang teman-teman terdekat saya, Inka, Idan, Riyal, Tamim, Andolin, Adit, dan Puti untuk berpartisipasi menganimasikan footage yang sudah ada. Sekaligus untuk mengobservasi seberapa efektif alur workshop yang sudah dirancang. Ada beberapa catatan penting dari kegiatan malam itu seperti menganimasikan 1 shot oleh satu orang dibutuhkan waktu yang cukup lama, bisa sampai berjam-jam, melebihi waktu workshop yang ditentukan. Sementara konsep awal saya ialah, satu orang menganimasikan satu shot yang berisi 30 gambar. Dari catatan penting ini, Rimbun merubah konsep workshop malam selanjutnya.

8 Maret

Guest:
Maura Inca & Hajar Aznam

Note:
Maura Inca, peserta workshop dari Jakarta, datang ketika sedang berlibur di Yogyakarta. Ia mengetahui informasi tentang workshop ini dari Instagram Nasirun Studio, yang juga menjadi salah satu pendukung kegiatan ini.

Maura merupakan lulusan Desain Interior dari Universitas Mercu Buana Jakarta. Ia bercerita bahwa ini adalah pertama kalinya ia mencoba membuat animasi, dan sudah cukup lama sejak terakhir kali ia menggambar. Saya menyampaikan bahwa teknik animasi yang digunakan dalam workshop ini adalah teknik yang relatif terbuka untuk siapa saja—bahkan bagi orang yang sudah lama tidak menggambar atau yang belum memiliki pengalaman dengan animasi.

Maura memiliki pribadi yang sangat humble. Dalam percakapan kami, ia banyak membagikan pengalamannya selama berlibur di Prancis: mengunjungi museum, mencoba berbagai makanan lokal, serta bercerita tentang betapa mahalnya biaya hidup di sana. Ia juga memiliki rencana untuk tinggal di Prancis dalam waktu dekat.

Karena saya sendiri memiliki cita-cita untuk berkuliah di Prancis, cerita-cerita tersebut terasa sangat menarik bagi saya. Saya menanyakan banyak hal tentang kehidupan sehari-hari di sana—mulai dari bahasa yang digunakan, kebiasaan jam tidur masyarakatnya, bagaimana suasana kota, seperti apa cuacanya, hingga perkiraan biaya makan. Hal-hal kecil seperti ini terasa penting bagi saya untuk memiliki gambaran lebih nyata tentang kehidupan di sana. Maura menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sangat detail.

Sementara itu, Hajar Aznam, mahasiswa S3 di UGM, adalah seorang praktisi sekaligus peneliti animasi dari Malaysia yang memiliki ketertarikan pada wayang. Saya pertama kali mengenalnya pada tahun 2025 ketika ia datang ke salah satu program workshop yang diselenggarakan oleh komunitas Animasi Club.

Dalam percakapan kami, Hajar bercerita bahwa ia pernah membuat animasi dengan teknik rotoscoping ketika menempuh studi S2 di Australia. Malam ini menjadi momen baginya untuk kembali bersentuhan dengan teknik rotoscoping setelah cukup lama tidak mengerjakannya.

Refleksi Kecil

Pertemuan seperti ini mengingatkan saya bahwa sebuah workshop tidak hanya tentang mempelajari teknik, tetapi juga tentang percakapan, pengalaman, dan cerita yang saling dibagikan di dalam ruang yang sama.